Senin, 15 Oktober 2012

ETIKA BISNIS DALAM BERBISNIS


TUGAS 1 

Etika bisinis adalah suatu hal yang harus dimiliki oleh semua pelaku-pelaku bisnis, dimana etika bisnis merupakan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku dan harus dipatuhi dalam menjalankan bisnis disebuah perusahaan. Jika peraturan tersebut dilanggar atau di jalankan semestinya, maka aka nada sanksi atau masalah yang akan timbul di kemudian hari.
Maka dari itu, etika bisnis merupakan hal yang penting untuk seorang manager. Etika bisnis dapat dikatakaan penting karena etika bisnis berhubungan dengan banyak hal didalamnya, seperti hubungannya dengan antar perusahaan, konsumen, pegawai, kreditur, dan pesaing. Jika seorang manager dapat menguasai dan mengendalikan hubungan-hubungan tersebut, maka nama baik perusahaan yang ia pimpin akan baik, namun jika tidak dikuasai dan dikendalikan dengan baik, maka akan menjadi kendala yang sangat menyulitkan bagi perusahaan.
Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di bagian Adm. Personalia, saya memiliki manager yang menurut saya sangat memperhatikan etika-Nya sebagai Manager Personalia. Karena menurutnya, Seorang pemimpin merupakan panutan bagi bawahannya, terlebih ia adalah seorang manager yang ruang lingkupnya berhubungan langsung dengan karyawan di perusahaannya. Dia merasa harus mengerti apa yang menjadi kebutuhan karyawannya. Oleh karena itu, ia belajar untuk bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mampu membaur dengan karyawannya dan memberikan motivasi kepada mereka dalam melakukan pekerjaannya.
Itu adalah contoh bagaimana seorang manager dalam melakukan pendekatan terhadap karyawannya. Dengan etika sebagai pemimpin yang sederhana dan supel, ia dapat menarik simpati karyawannya. Dan dari sinilah, manager tersebut dapat dihormati dan memiliki nama baik yang disegani oleh karyawan-karyawanya.

Sabtu, 30 Juni 2012

ANALISIS PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsep diri terhadap motivasi belajar Mahasiswa. Rumusan masalah yang dikemukakan adalah bagaimana konsep diri mampu mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa.
Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah dari hasil survei yakni penelitian dengan mengambil contoh atau sampel dari populasi yang ada dengan menggunakan metode sample random sampling. Data diperoleh dari kuisioner yang diisi oleh mahasiswa Universitas Gunadarma, kemudian data dari hasil survei tersebut selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS 11.5. Dengan menggunakan metode kuantitatif, yaitu penganalisaan dalam bentuk angka, dalam penulisan ini penulis menggunakan rumus-rumus statistik seperti Skala likert, uji faliditas dan reliabilitas, regresi linier sederhana.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam pengolahan data kuesioner penelitian yang dibagikan secara random kepada mahasiswa Universitas Gunadarma kampus J1 kalimalang, dengan menggunakan software SPSS 11.0, diperoleh jumlah responden sebanyak 102 orang. Responden terbanyak dalam kelompok usia adalah responden berusia rata-rata 21-24 tahun dengan jumlah 49 % atau 49 orang. Responden dengan kelompok jenis kelamin didominasi oleh responden wanita, dengan jumlah 45,9 % atau sama dengan 59 orang. Responden berdasarkan kelompok jenjang terbanyak adalah jenjang S1 sebesar 70,6 % atau sama dengan 72 orang. Responden dalam kelompok fakultas didominasi oleh responden fakultas ekonomi yaitu sebesar 48% atau sama dengan 49 orang, sedangkan untuk Responden dengan kelompok kelas yang dibagi dengan kelas pagi dan kelas malam, didominasi oleh responden kelas pagi yaitu sebesar 84,3 % atau sama dengan 85 %.

Senin, 11 Juni 2012

Tugas Cerpen "Menanam Pohon"

Pada suatu hari ibu membeli buah mangga. Karena saya sangat suka buah mangga, Saya langsung makan dengan lahap. setelah memakannya saya berniat untuk membuang kulit mangga dan bijinya namun tiba-tiba saya berfikir untuk menanam biji mangga tersebut saja daripada harus membuangnya.
Kebetulan di depan rumah ada pot besar yang tidak terpakai, lalu saya bertanya kepada ibu, " bisa nggak ya, saya menanam biji mangga di pot itu?" lalu ibu menjawab "Kamu coba saja".
Setelah itu saya masukkan tanah kedalam pot, lalu biji mangga saya masukkan dalam pot. setiap hari saya siram dan setelah lima hari mulai tumbuh tunas. Saya berharap tunas itu dapat tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat.

Senin, 19 Maret 2012

"IBU"

Ibu,
Engkau adalah anugrah yang selalu aku syukuri
Engkau yang menjembatani ku hingga aku hadir di duniamu
Engkau yang berjuang keras untuk hidupku
Engkau yang mempertaruhkan nyawa untuk memberikan kehidupan

Seperti cahaya yang memberikanku penerangan dikala aku gelisah
Engkau membelaiku dengan penuh ketulusan
Menciumku dengan penuh kasih sayang
Memelukku dengan hangat hingga aku terlalap dalam nyaman

Engkau yang selalu setia menemaniku
Dengan penuh yakin kau menyemangati segala yang ku lakukan
Pengorbananmu yang selalu membuatku kuat
Cinta kasihmu yang selalu membuatku bangga memiliki seorang Ibu sepertimmu

Entah dengan apalagi ku ucapkan
Segala keindahan ada padamu Ibu
Terimakasih untuk segala hal yang engkau berikan
Aku hanya seorang anak yang teramat mengagumi mu
Dan akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu

Maafkan aku untuk kesalahan yang membuatmu luka
Sejujurnya itu bukanlah inginku
Hanya sepenggal ke'egoisan sesaat yang membuatku menyesal akhirnya

Aku sangat mencintaimu Ibu
Sungguh mencintaimu

PENALARAN INDUKTIF

BENTUK-BENTUK PEMIKIRAN

Ada tiga bentuk pemikiran, yakni pengertian (konsep), pernyataan (proposisi), dan penalaran (reasoning).
Pengertian merupakan suatu yang abstrak. Pengertian terbentuk bersamaan dengan observasi empiris. Ketika kita melihat pohon, awan, langit dan laut, terbentuklah pengertian tentang hal tersebut dalam pikiran. Jadi, aktivitas pikiran terjadi bersamaan dengan aktivitas indera.
Pengertian disampaikan dalam wujud lambing, yakni bahasa.dalam bahasa, lambing pengertian ialah kata. Kata sebagai fungsi pengertian disebut term.
Tidak ada pengertian yang berdiri sendiri, selalu ada rangkaian-rangkaian pengertian, dan rangkaian pengertian itulah yang disebut pernyataan atau proposisi.. sebuah proposisi terdiri dari tiga unsure yakni subyek, predikat, dan kata penghubung. Predikat adalah pengertian yang menerangkan, subyek addalah pengertian yang di terangkan, dan kata penghubung  mengakui atau memungkiri hubungan antara subjek dan predikat.
Adadua macam proposisi, yaitu:
1.      Proposisi empiric atau proposisi dasar
Adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara empiric
Contoh :           
- Kupu-kupu itu cantik
-   Kupu-kupu itu terbang
2.      Proposisi mutlak
Addalah pernyataan yang jelas dengan sendirinya sehingga tidak perlu dibuktikan secara empiris.
Contoh :           
-Yatim adalah anak yang tidak punya bapak
- Piatu adalah anak yang tidak punya ibu

Berdasarkan hubungan subyek dan predikat, proposisi dibedakan atas :
1.      Proposisi hipotik
Hubungan predikat dan subjek bergantung pada syarat
2.      Proposisi kategorik
Hubungan predikat dan subjek tidak bersyarat



PENALARAN
Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran, dan sebab itu lebih rumit disbanding pengertian dan proposisi.
Secara sederhana penalaran dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proposisi-proposisi yang mendahuluinya.
Contoh :
Logam 1 memuai jika di panaskan
Logam 2 memuai jika dipanaskan
Logam 3 memuai jika dipanaskan
Dst.
Jadi : semua logam yang dipanaskan memuai

KONKLUSI DAN PREMIS
Dari contoh di atas,dapat kita katakana bahwa penalaran ialah gerak pikiran dari proposisi 1 dan seterusnya, hingga akhir. Jadi penalaran merupakan suatu proses pikiran.sebuah penalaran terdiri atas premis dan kesimpulan.
Premis dibedakan menjadi :
1.      Premis mayor
2.      Premis minor

HUKUM-HUKUM PENALARAN
Perlu diperhatikan bahwa “yang benar” tidak sama dengan “yang logis”. Yang benar adalah suatu proposisi. Sebuah proposisi itu benar jika ada kesesuain antara subjek dan predikat. Yang logis adalah penalaran. Suatu penalaran dinamakan logis jika mempunyai bentuk yang tepat, dan sebab itu penalaran itu sahih.
Nah, dengan asumsi bahwa bentuk penalaran itu sahih, maka hubungan  kebenaran antara premis dan konklusi dapat dirumuskan dalam hokum-hukum penalaran sebagai berikut :
1.      Apabila premis benar, konklusi benar
Contoh :
Semua manusia akan mati
Ali adalah manusia
Jadi : Ali akan mati
Disini, premis mayor dan premis minor benar. Oleh sebab itu konklusinya juga benar

2.Apabila konklusi salah, premisnya juga salah
Contoh:
Semua manusia akan mati
Malaikat adalah manusia
Jadi : malaikat akan mati
Disini konklusinya salah, sebab itu premisnya (kedua-duanya atau salah satunnya) juga pastisalah. Premis mayor benar, premis minor salah, sebab malaikat memang bukan manusia, jadi konklusi salah karena premis minornya salah.

3.Apabila premisnya salah, konklusinya dapat benar dapat salah
Contoh :
Malaikat itu benda fisik
Batu itu malaikat
Jadi : batu itu benda fisik
Disini kedua premisnya salah, tetapi konklusinya benar.

4.Apabila konklusi benar, premis dapat benar dan dapat salah
Contoh : lihat contoh diatas

PENALARAN INDUKTIF 
Penalaran Induktif adalah suatu proses berfikir berupa penarikan kesimpulan yang bersifat umum (berlaku untuk semua/ banyak) atas dasar pengetahuan tentang hal-hal khusus (fakta). Artinya dari fakta-fakta yang diperoleh kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Penalaran induktif dapat dilakukan secara terbatas dengan mencoba-coba. Sehingga dapat dikatakan bahwa penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum. 
Penarikan kesimpulan dari suatu penalaran induktif tidak dapat dijadikan bukti. Ini dikarenakan kesimpulan yang diperoleh, ditarik dari pemeriksaan beberapa contoh kasus khusus yang benar, tetapi belum tentu berlaku benar untuk semua kasus. Kesimpulan tersebut boleh jadi valid (syah) pada contoh yang diperiksa, tetapi bisa jadi tidak dapat diterapkan pada seluruh kasus. Untuk membuktikannya berlaku dalam setiap kasus, maka harus dilakukan proses pembuktian secara deduksi. 
Ada 3 jenis penalaran induksi, yaitu : 
1.      Generalisasi Penalaran generalisasi dimulai dengan peristiwa – peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan secara umum. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala.
·        Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif Fakta yang dugunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Contoh : Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna. 
·        Generalisasi Dengan Loncatan Induktif Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan. Contoh : Setelah kita memerhatikan jumlah hari pada setiap bulan pada tahun Masehi, kemudian disimpulkan bahwa : Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari tiga puluh satu. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan. 

2.      Analogi Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan yang diambil dengan analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya. 
Tujuan Analogi: 
·         Meramalkan kesamaan 
·         Menyingkap kekeliruan 
·         Menyusun sebuah klasifikasi 

Contoh : Kita banyak tertarik dengan planet Mars, karena banyak persamaannya dengan bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai atsmosfir seperti Bumi. Temperaturnya hampir sama dengan Bumi. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti di Bumi. Jika di Bumi ada makhluk. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup di planet Mars. 

3.      Kausal Kausal adalah merupakan prinsip sebab-akibat yang di haruri dan pasti antara gejala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya , merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. 
Tujuan Kausal : Tujuan kausal terdapat dalam Hubungan Kausal Dapat berlangsung dalam tiga pola : 
·         Sebab ke akibat
Dari peristiwa yang dianggap sebagai sebab menuju kesimpulan sebagai efek. 
·         Akibat ke sebab 
Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat menuju sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat.
·         Akibat ke akibat 
Dari akibat ke akibat yang lain tanpa menyebut sebab umum yang menimbulkan kedua akibat. 
Contoh : 
·         Sebab- akibat 
Hujan turun di daerah bekasi mengakibatkan timbulnya banjir.
·         Akibat – Sebab.
Heru tidak lulus dalam ujian matematika disebabkan dia tidak belajar dengan rajin. 
·         Akibat – Akibat. 
·         Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah. 

Senin, 05 Desember 2011

LOYALITAS PELANGGAN : SEBUAH KAJIAN KONSEPTUAL SEBAGAI PANDUAN BAGI PENELITI


Basu Swastha Dharmmesta
Universitas Gadjah Mada


   Mempertahankan pelanggan adalah keinginan semua pemasar. ini tidak mudah, mengingat banyak perubahan banyak terjadi setiap saat. Baik itu perubahan dari dalam diri pelanggan seperti selera, aspek psikologis, sosial dan kultural pelanggan. Meski pemasar sudah memiliki segmen pelanggan yang dianggap loyal, dalam kondisi krisis ini pemasar perlu memberikan perhatian tentang loyalitas pelanggan agar tidak terjadi perpindahan merk. Tekanan demi tekanan dari pesaing yang mengarah pada perubahan loyalitas pelanggan tidak dapat diabaikan. 

    Loyalitas dapat dipahami sebagai konsep yang menekankan pada runtutan pembelian seperti yang dikutip oleh Dick dan Basu ( 1994 ) dari Day ( 1969 ) dari Jacoby dan Olson ( 1970 ), yang lebih bersifat operasional bukan teoritis. Pengertian loyalitas pelanggan yang didasarkan pada pendekatan keperilakuan (behavioral approach) itu masih belum memadai untuk menjelaskan bagaimana loyalitas merk dikembangkan. 

    Menurut Jacoby dan Kryner ( 1973 ) mendefinisikan pendekatan behavioral dalam enam kondisi loyalitas merk : 
1. Respon Keperilakuan ( pembelian )
2. Yang bersifat bias ( nonrandom )
3. Terungkap secara terus menerus
4. Oleh unit pengambilan keputusan
5. Dengan memperhatikan satu atau beberapa merk alternatif dari sejumlah merk sejenis 
6. Merupakan fungsi psikologis ( pengambilan keputusan, alternatif )

    Jacoby dan Chestnut ( 1978 )telah mengkaji lebih dari 300 penelitian tentang loyalitas merk dan menyimpulkan bahwa tidak ada definisi operasional yang memuaskan tentang loyalitas merk. Sedangkan Mowen dan Minor ( 1998 ) mendefinisikan loyalitas merk dalam arti kondisi di mana konsumen mempunyai sikap positif terhadap sebuah merk, berkomitmen pada merk tersebut dan bermaksud meneruskan pembeliannya pada masa mendatang. Definisi yang dikemukakan Mowen didasarkan pada dua pendekatan yaitu pendekatan keperilakuan dan attitudinal.

Merk dan Atribut Produk sebagai Objek Loyal
    Atribut seperti warna, kemasan, kualitas jarang digunakan oleh pelanggan sebagai objek loyal. Merk dianggap sebagai objek loyal karena dianggap sebagai identitas produk atau perusahaan yang lebih mudah dikenali pelanggan. Jika pelanggan menggunakan atribut lain sebagai objek loyal, pada akhirnya juga akan dikaitkan dengan merk favoritnya.

Kategori Loyalitas
Ada 4 macam loyalitas menurut Jacoby dan Chestnut ( 1978 ) yaitu :
1. Loyalitas merk fokal yang sesungguhnya (true focal brand loyalty), loyalitas pada merk tertentu yang menjadi minat.
2. Loyalitas merk ganda yang sesungguhnya (true multibrand loyalty), termasuk merk fokal.
3. Pembelian ulang merk fokal dari non loyal.
4. Pembelian secara kebetulan merk fokal oleh pembeli-pembeli loyal dan non loyal merk lain.
Pendektesian adanya loyalitas merk tunggal yang sesungguhnya dapat dilakukan dengan menguji :
1. Struktur Keyakinan (kognitif), artinya informasi merk oleh konsumen harus menunjukan pada merk fokal yang dianggap superior dalam persaingan ;
2. Struktur Sikap (Afektif), artinya tingkat kesukaan konsumen harus lebih tinggi dari pada merk saingan ;
3. Struktur Niat (Konatif), artinya konsumen harus mempunyai niat untuk membeli merk fokal bukan merk lain.

Tahap-Tahap Loyalitas Berdasarkan Pendekatan Attitudinal dan Behavioural
Tahap Pertama : Loyalitas Kognitif
Konsumen menggunakan basis informasi yang secara memaksa menunjukan pada satu merk atas merk lain. Loyalitas hanya didasarkan pada kognisi saja.
Tahap Kedua : Loyalitas Afektif
Loyalitas pada tahap ini sulit diubah, karena loyalitas sudah masuk ke benak konsumen. Loyalitas Afektif ini lebih dipengaruhi oleh kepuasan konsumen.
Tahap Ketiga : Loyalitas Konatif
Konasi menunjukan suatu niat atau komitmen untuk melakukan sesuatu ke arah suatu tujuan tertentu, jenis komitmen ini sudah melampaui afek, bagian dari properti motivasional untuk mendapatkan merk yang disukai. Keinginan untuk membeli ulang hanya merupakan tindakan yang terantisipasi tetapi belum terlaksana.
Tahap Keempat : Loyalitas Tindakan
Dalam runtutan kontrol tindakan, niat yang diikuti oleh motivasi, merupakan kondisi yang mengarah pada kesiapan bertindak dan pada keinginan untuk mencapai tindakan tersebut. Jadi tindakan merupakan hasil dari pertemuan dua kondisi.

Keteguhan Pada Merek Vs Kerentanan Berpindah Merek
   Karena adanya rangsangan pemasaran, konsumen yang hanya mengaktifkan tahap kognitifnya dihipotesiskan rentan berpindah merek. Sedangkan konsumen dengan integrasi penuh pada tahap loyalitas tindakan dapat dihipotesiskan sebagai konsumen dengan kerentanan rendah untuk berpindah merek.

Promosi Penjualan Untuk Mengembangkan Loyalitas Merek
    Selain Loyalitas dan diperkuat periklanan, loyalitas merek juga dapat dikembangkan melalui promosi. Kegiatan promosi yang intensif dapat menjadi alat untuk mengembangkan loyalitas merek dari konsumennya.

Pengukuran Loyalitas Merek
Secara Umum loyalitas merek diukur melalui :
1. Runtutan Pembelian Merek
 Dalam metode runtutan pilihan merek disebut juga dengan pola pembelian ulang, untuk memudahkan pengukuran, produk-produk yang sering dibeli oleh konsumen dapat dijadikan objek.
2. Proporsi Pembelian
 Kelebihan pada metode ini adalah
a. Lebih mudah untuk dikuantitatifkan ;
b. Memungkinkan dilakukan identifikasi loyalitas merek ganda.
3. Preferensi Merek
 Cara ini mengukur loyalitas merek menggunakan perilaku nyata (pembelian aktual) sebagai kriterion. 
4. Komitmen Merek
 Komitmen merek dapat didefinisikan sebagai kesertaan emosional psikologis pada sebuah merek dalam sebuah kategori produk. Menurut para peneliti, keterlibatan ego terjadi ketika sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, kebutuhan dan konsep diri konsumen.
5. Skala Loyalitas
 Skala Loyalitas lebih difokuskan pada elemen-elemen yang disampelkan dari item skala berikut :
a. Elemen Ketertarikan Konsumen pada Sebuah Merek
b. Elemen Kerentanan Konsumen untuk berpindah merek.

Mengidentifikasikan Pelanggan yang Loyal pada Merek
     Pengidentifikasian merek harus dilakukan secara terus menerus. Perlu diperhatikan jika konsumen membeli produk-produk tertentu karena pengaruh promosi penjualan dari pemasar bukannya karena kualitas positif intrinsik produk, maka konsumen akan memiliki kebiasaan beli hanya ketika diadakan promosi penjualan.


Tanggapan Saya dari Jurnal ini adalah ...
Jika perusahaan menginginkan loyalitas pelanggan terhadap produk yang dihasilkan perusahaan pada masa mendatang, perusahaan harus menanamkan loyalitas terhadap produk dan pelanggannya. Karena, siapa yang menanam pasti dia yang menuai hasilnya.
Kekurangan jurnal ini adalah tidak ada contoh nyata atau kasus yang pernah terjadi. Kelebihannya jurnal ini menambah pengetahuan mengenai loyalitas merek, dan bahasa yang digunakan sangat mudah di mengerti.

Rabu, 12 Oktober 2011

Desain Produk Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Dalam memilih produk, konsumen tentu saja akan di pengaruhi oleh desaindari produk. Desainproduk merupakan segala sesuatu yang melekat danmenyertai produk tersebut, seperti merek, bentuk, model, warna, kualitas dansebagainya. Deasinmerupakan salah satu unsur penting yang dapat mendorongkonsumen untuk membeli produk, semakin baik deasin atau modelnya produkmaka konsumen akan semakin tertarik untuk membeli suatu produk tersebut.
Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akanmelibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing - masing. Peran yangdilakukan tersebut adalah :
1. Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu.
2. Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusanpembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akandipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak.
3. Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya.
4. Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya.
5. User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.(http://digilib.itb.ca.id/peminatan-manajemen-pemasaran.htm).

Desain diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata. Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya.Akhir-akhir ini, proses (secara umum) juga dianggap sebagai produk dari desain,sehingga muncul istilah “perancangan proses”.

Model adalah rencana, representasi, atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek, sistem, atau konsep, yang seringkali berupa penyederhanaan atau idealisasi.Bentuknya dapat berupa model fisik (maket, bentuk prototipe), model citra(gambar rancangan, citra komputer), atau rumusan matematis.

Desain Produk (product)

Desain Produk, atau dalam bahasa keilmuan disebut juga Desain Produk Industri, adalah sebuah bidang keilmuan atau profesi yang menentukanbentuk / form dari sebuah produk manufaktur, mengolah bentuk tersebut agarsesuai dengan pemakainya dan sesuai dengan kemampuan prosesproduksinya pada industry yang memproduksinya. Sebagai contoh : desainer produk mendesain kursi tidak hanya agar kursi tersebut tampak bagus, tetapi juga agar nyaman diduduki dan mudah untuk diproduksi.

Tujuan dasar dari segala upaya yang dilakukan oleh seorang/sebuah teamdesainer produk dalam kerjanya adalah untuk membuat hidup lebih nyaman,menyenangkan, dan efisien. Kursi kantor yang nyaman, pisau dapur yangnyaman dipakai oleh orang berusia lanjut dan mainan yang aman dimainkandan dapat merangsang anak-anak untuk belajar adalah contoh-contoh hasilkreasi para desainer produk yang dihasillkan dengan memperlajari manusiapada saat melakukan aktivitasnya dalam bekerja, di rumah, ataupun di laintempat. Dengan mempelajari bagian - bagian produk yang langsungberinteraksi dengan manusia pemakainya tersebut, diharapkan selain dapatdihasilkan produk - produk yang aman terhadap penggunanya juga amanterhadap lingkungan. Pada akhirnya dari sentuhan seorang / teamdesainer produk lahirlah sebuah produk yang elegant yang membuat masyarakat ingin membelinya